Akibat pembiaran aparat, jumlah geng motor yang meresahkan
masyarakat meningkat selama tiga tahun. Indonesia Police Watch (IPW) meminta
aparat kepolisian mengaktifkan polsek dan polres untuk memberantasnya.
Pembiaran yang dilakukan polisi terhadap geng motor selama ini, ujarnya, sudah
membuat konflik sosial, memicu dendam, dan aksi main hakim sendiri,Pembiaran
itu terlihat dari data yang dihimpun IPW.
Pada tahun 2009 saja di wilayah Polda Metro Jaya ada 20
lokasi balapan liar. Kini, 2012 justru tersebar di 80 lokasi. Area geng motor
terbesar ditemui di Tangerang sebanyak 21 lokasi. IPW mendata ada tiga perilaku
buruk geng motor, balapan liar, judi (taruhan), dan tawuran (pengeroyokan),
polanya terbanyak seperti yang dialami seorang anggota TNI AL di Kemayoran yang
mengakibatkan korban jiwa.
Catatan kekerasan lainnya terlihat pada 2009. Didapati ada
68 orang tewas di arena balapan liar, baik akibat kecelakaan maupun
pengeroyokan. Pada 2010 ada 62 orang tewas, 2011 ada 65 tewas. Balapan liar
yang mereka lakukan kerap mengancam keselamatan masyarakat pengguna lalulintas.
Setidaknya IPW menemukan ada lima lokasi yang menantang, yakni Warung Buncit,
Jaksel dengan tikungan tajam, turunan, dan tanjakan. Rawapanjang, Bekasi yang
berjalur lurus penuh truk dan kontainer. IPW berharap Polda Metro mengedepankan
polsek dan polres untuk mmberantas geng motor dan balapan liar ini. Jika tidak
konflik sosial akibat dendam atas prilaku geng motor ini akan terus berkecamuk
di Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar