Minggu, 20 November 2011

Selintas Kenangan


“Pasangan pengantin masuk rungan, beri sambutan yang meriah!” terdengar suara pembawa acara pernikahan. Hari ini adalah hari pernikahan sahabatku Bunga, dia cocok sekali menggunakan gaun pengantin itu. Begitulah selintas dalam pikiran ku. 

“Bud, nanti kamu main gitar di acara hiburan kan, mau main lagu apa?” Tanya Susy. Instrumental “Ladybird samba” jawab ku. 

“Heh?.. yang benar saja? Masa main lagu begitu di respsi sahabatmu?! Kamu kan bisa bikin lagu sendiri, bikin dong satu lagu buat hadiah?”.

 “Sahabat” kata yang sepintas di otakku.

Waktu SMU, aku Budi memang berteman dekat dengan Bunga. Dan nampaknya dia masih menganggapku sebagai sahabatnya sampai saat ini. Tapi dia tak pernah tau. Bagiku.. Dia lebih dari seorang sahabat… Waktu SMU, aku ikut klub berkebun dan musik sekaligus. Setiap hari aku bermain gitar disana. Sementara Bunga mengurus tanaman. 

“Aku nggak kuat ngangkat pot tanaman yang besar itu,” kata Bunga. “Biar aku yang angkat, tapi nanti kita pulang bareng ya” jawabku. Saat kegiatan klub berakhr kita pulang bareng.

Saat pulang jalan ke rumah kami melakukan percakapan. “Eh, tempo hari ada yang jual CD lama lho!” kataku. “Sekarang kan lagi musim terong dan tomat” kata Bunga. Memang obrolan kami tidak pernah nyambung, kalau mau jujur, kami dua orang yang sama sekali berbeda. Tapi entah kenapa, kami menikmati setiap detik persahabatan ini. 
Tidak perlu banyak waktu untuk menyadari bahwa aku “jatuh cinta” padanya…


“Saatnya pemotongan kue pengantin!” kata pembawa acara.. “Bud, nggak nyangka kau di undang juga, lho” kata seorang temanku. “Eh, memang kenapa?” aku bingung. “biasanya pengantin ga mengundang mantan pacar?” katanya. “memang siapa mantan pacarnya?” jawabku. “yah kmu” . “Kami ga pernah pacaran, kok!” jawabku kesal. “Tapi kalian deket bangat” kata susy ikut dalam pembicaraan. “Masa sama sekali nggak punya perasaan apa- apa?” Aku pun terdiam, dalam hati berkata “perasaan itu pernah ada…” beberapa kali aku ingin menyampaikan perasaan itu padanya, tapi.. Aku selalu terbentur dinding “persahabatan” kami. Aku tak pernah punya keberanian untuk mengutarakannya.. Seandainya kalau ada kesempatan..

Seperti biasa aku bermain gitar di klub, terdengar komentar dari Bunga “lagu yang tadi bagus sekali apa judulnya?” “Belum ada judulnya, baru dibuat kemarin kok,” jawabku. “siapa yang buat,” Tanya Bunga. “aku” “Heeh? Kamu bisa buat lagi sendiri Bud? Hebat! Bikini aku satu dong! Lagu tentang aku” kata Bunga “buatin ya, hehehe”
Ini dia, dalam hati ku ini kesempatan yang aku tunggu- tunggu! Bila kutulis dengan sepenuh hati.. Setiap nadanya pasti akan menyampaikan tulusnya perasaan ku!

Esokan harinya aku masuk ke ruangan klub. “Eh, Budi? Tumben datangnya cepat” kata Bunga. “Yang lainnya kemana?” Tanya aku. “sepertinya blum datang” jawab Bunga. Dalam hatiku, ini adalah kesempatan emas! “Hmm.. begini Bunga, ada yang ingin aku perdengarkan,” sambil memegang note lagu. “Bud… boleh curhat ga?” tiba- tiba bunga memotong pembicaraan. “Eh?” aku bingung..
“Aku… Sudah menyukai… Se-seorang” Bunga berbicara dengan nada malu. “Rasanya ajaib sekali, aku sama sekali tak pernah punya perasaan apa- apa terhadapnya.. Tapi semenjak kemarin, tiba-tiba saja.. Aku jadi..”
“Wah sama kebetulan dong! Aku juga baru punya gebetan!” entah aku panik kata itu keluar begitu saja dari mulutku. “Masa sih,” Tanya Bunga. “Iya masa bisa kebetulan begitu, ya! Kita betul- betul sehati nih!” aku pun tambah panik “Ternyata kita betul-betul sahabat sejati!” dalam hatiku berbeda dengan ucapan. “Oh, gitu.. Yah.. Kita berjuang bersama-sama ya!” Jawab Bunga dengan memberikan senyuman kepada ku.. “I.. Iya..” jawabku dengan suara lemas. Berjuang bersama… Satu ucapan yang membuat hatiku luluh lantak. Sejak saat itu waktu terasa berhenti.

Saat aku ingin mengambil gitar di ruang loker pesta, aku tanpa sengaja mendengar susy sedang berbicara dengan temannya.. “Kamu tau nggak konon kabarnya nih.. Waktu SMU Bunga naksir berat sma Budi lho,” kata susy. Aku kaget! “Aku nggak salah denger?!” dalam hatiku..
“Dia pernah mau menyatakan perasaannya, Tapi ternyata si Budi sudah punya pilihan lain.” Kata Susy. “Saatnya nggak pas bener ya,” jawab temannya itu.

“Ja.. Jadi, Aku yang dia maksud pada saat itu?!” akupun terdiam…

“Para hadirin Tuan Budi sahabat pengantin wanita, akan mempersembahkan lagu Ladybird samba! beri tepuk tangan yang meriah” saat aku pun tampil.

Aku termenung sebentar di atas panggung. Dan mulai memainkan lagu.

“Eh lagu ini..? Ini sih bukan lagu Ladybird samba?” jawab seorang penonton bingung.

“Aku membawakan lagu yang aku ciptakan buatnya dahulu.. Lagu ini tentang dia..” sambil  berkata dalam hatiku.

“Aku.. Cuma bisa menyesal, seandainya saat itu aku berani barkata jujur.. Keadaan bakal jauh berbeda, bukan?

“Tidak…  Justru hari ini ada karena aku tidak punya keberanian.. Kumainkan lagu ini untuk terakhir kalinya. Perasaan yang ingin kusampaikan, kutinggalkan hari ini dan melahkan maju ke depan…” Aku terus bermain gitar dengan rasa gembira.

“Entah.. lagu ini sangat indah sekali, aku tak mengerti tapi, air mata ini… Dalam sesaat serasa kembali ke masa SMU” kata Bunga sambil meneteskan air mata. Dalam hati Bunga ikut terharu mendengerkan lagu dari Budi.

Semua penonton menikmati lagu yang dibawakan olehku. Dalam hatiku, begitu lagu ini usai. Kami akan menjadi “sahabat”. Waktu yang sudah lama berhenti akan bergerak perlahan. Membuat ku bisa tersenyum dan berkata… “Kita, Berjuang Bersama…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar