Untuk yang satu ini saya tidak setuju. Sebaiknya Soal menunjukan Prestasi karena saya baru saja Menghadapi ujian akhir semester. Banyak yang mengira bahwa soal-soal yang keluar tidak jauh dari tahun sebelumnya. Ya! memang benar soal yang bisa di bayangkan tidak jauh berbeda dari yang sebelumnya Kenapa? karena saya juga tidak tahu, namun belajar dari soal dan mengerjakannya itu membuat lebih percaya diri untuk menjawabnya dan punya keyakinan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Bercerita tentang soal, saya baru saja selesai dengan Ujian Utama matakuliah Analisis dan perancangan sistem informasi. Yang saya dapatka adalah soal 2 tahun lalu yaitu soal tahun 2010. Dan seperti yang saya bayangkan untuk mengerjakan soal tahaun ini tidak akan jauh berbeda. Tetapi, nyatanya tidak ada yang sama persis satu soalpun untuk matakuliah ini! Saya belum mempersiapkan untuk keadaan seperti ini. Merasa tadi mengerjakan kurang maksimal. Apa yang bisa dilakukan hanyalah percaya diri untuk mengerjakan soal tersebut dan berdoa agar bisa dapat hasil yang diinginkan.
Soal posisi yang menentukan sebuah prestasi bukannya yang jadi prioritas. Mungkin, kalau posisi dalam belajar. Contohnya duduk di depan dan memperhatikan dosen yang mengajar dengan baik bisa di kategorikan sebuah posisi menunjukan prestasi. Sudah pernah coba sih, sudah membuktikannya juga. Tetapi kadang ada perasaan minder untuk tidak duduk di depan. Entah itu Dosennya galak atau tidak nyaman duduk di depan. Secara strategis duduk di depan tingkat fokus dan konsentrasinya bagus. Itu yang membuat sebuah posisi menunjukan sebuah prestasi. Mungkin, tetapi tidak setiap orang seperti itu. Ada yang duduk di belakang dan memperhatikan dengan baik bisa juga menunjukan prestasi. Kembali kemasing-masing orangnya juga. Sekian
Jumat, 27 Juli 2012
Koin Untuk KPK
Sudah ratusan juta koin yang terkumpul untuk membangun sebuah Gedung KPK. Koin dari Masyarakat yang sadar akan pentingnya Sebuah Gedung KPK, mereka sadar bahwa kalau bukan KPK siapa lagi yang bisa memberantas Korupsi di Negri ini? Dari Instalasi yang kecil sampai ke DPR banyak yang terkena kasus korupsi. Apakah DPR dan Komisi III tidak sadar? Apa mereka Takut Akan kinerja KPK untuk membratas Korupsi sedangkan Anggota DPR takut tekuak, atau melaikan melindungi para Koruptor- koruptor yang berada di Negri ini?
Mau sampai Kapan? Mereka di pilih oleh Rakyat untuk menyampaikan aspirasi. Tetapi untuk hal yang seperti ini mereka seolah buta dan tuli. Dukungan dari Masyarakat seolah tidak diperdulikan, hanya untuk membuat sebuah gedung KPK mereka tidak tahu menau. Sedangkan untuk mengsahkan sebuah undang-undang semudah membalikkan telapak tangan. Tidak perduli dengan nasip Rakyat. Yang mereka Fikirkan hanyalah Uang dan Kepentingan pribadi maupun Kelompok
Rusaknya Negara Ini tanpa adanya KPK, Sebuah instalasi yang transparan menguak kindak Korupsi di Negri Ini. Tidak tanggung- tanggung. Banyak Pejabat yang terkena Kasus Korupsi bahkan Ketua KPK yang terdahulu juga ikut terbawa Namanya. Memang tidak pandang bulu untuk namanya korupsi. Habis mau bagaimana lagi uang rakyat kok masih aja di makan. Tidak takut akan siksa Nerakakah mereka?
Saya mendukung Penuh dengan kinerja KPK untuk memberantas Korupsi di Negri Ini, Kalau tidak ada KPK siapa lagi yang akan Menegakan? Polisi? Jaksa? Meraka sudah kenal yang namanya suap dan sudah tebiasa dengan Uang dan manipolitik lainya. Ya, paling tidak ada perhatian dari pemerintah untuk memberantas yang namanya Korupsi. Korupsi sudah mendarah daging di Negara ini. Tolong sadar pak!
Mau sampai Kapan? Mereka di pilih oleh Rakyat untuk menyampaikan aspirasi. Tetapi untuk hal yang seperti ini mereka seolah buta dan tuli. Dukungan dari Masyarakat seolah tidak diperdulikan, hanya untuk membuat sebuah gedung KPK mereka tidak tahu menau. Sedangkan untuk mengsahkan sebuah undang-undang semudah membalikkan telapak tangan. Tidak perduli dengan nasip Rakyat. Yang mereka Fikirkan hanyalah Uang dan Kepentingan pribadi maupun Kelompok
Rusaknya Negara Ini tanpa adanya KPK, Sebuah instalasi yang transparan menguak kindak Korupsi di Negri Ini. Tidak tanggung- tanggung. Banyak Pejabat yang terkena Kasus Korupsi bahkan Ketua KPK yang terdahulu juga ikut terbawa Namanya. Memang tidak pandang bulu untuk namanya korupsi. Habis mau bagaimana lagi uang rakyat kok masih aja di makan. Tidak takut akan siksa Nerakakah mereka?
Saya mendukung Penuh dengan kinerja KPK untuk memberantas Korupsi di Negri Ini, Kalau tidak ada KPK siapa lagi yang akan Menegakan? Polisi? Jaksa? Meraka sudah kenal yang namanya suap dan sudah tebiasa dengan Uang dan manipolitik lainya. Ya, paling tidak ada perhatian dari pemerintah untuk memberantas yang namanya Korupsi. Korupsi sudah mendarah daging di Negara ini. Tolong sadar pak!
Kamis, 26 Juli 2012
Tingkat Motivasi Mana yang Kupilih
Dalam motivasi teori ada tiga hal yang pertama Political Motivation yaitu perilaku melakukan hal yang wajib untuknya selama yang wajib sudah terpenuhi maka sudah selesailah tugasnya. Yang kedua adalah Emotional Motivation, cenderung lebih dari pada yang wajib dia lakukan. Tekat untuk melakukan lebih dari yang orang lain lakukan di dasari tekad untuk maju dan lebih berkembang, suka akan tantangan baru, teman baru dan pengalaman yang baru bisa di rasakan dalam motivasi ini. Dan yang terakhir adalah Spiritual Motivation, motivasi yang di dasari oleh keikhlasan untuk melakukannya, tidak pernah mengeluh untuk berbuat kebaikan dan tidak merasa ada perasaan terpaksa untuk melakukannya. Hidupnya akan jauh dari namanya stress dan hatinya selalu damai. Karena melakukan kewajiban bukanlah hal yang menyusahkan untuknya.
Saya memilih untuk tingkat motivasi yang terakhir. Memang untuk saat ini saya berusah untuk mencapai tingkat yang kedua terlebih dahulu. Emotional Motivation. Berusaha untuk melakukan yang lebih dari kewajiban. Paling tidak kita melakukan sedikit lebih baik dari kemarin, kita sudah tergolong orang yang beruntung. Setiap orang ingin menjadi orang yang beruntung. Maka dari itu saya berusaha untuk melakukan yang terbaik dan lebih baik dari yang lalu. Itu membuat saya berubah untuk hal yang positif.
Untuk kedepanya pastinya saya akan lebih baik lagi dan bisa mencapai cita- cita. Dengan kerja keras dan berdoa pasti bisa diraih!
Saya memilih untuk tingkat motivasi yang terakhir. Memang untuk saat ini saya berusah untuk mencapai tingkat yang kedua terlebih dahulu. Emotional Motivation. Berusaha untuk melakukan yang lebih dari kewajiban. Paling tidak kita melakukan sedikit lebih baik dari kemarin, kita sudah tergolong orang yang beruntung. Setiap orang ingin menjadi orang yang beruntung. Maka dari itu saya berusaha untuk melakukan yang terbaik dan lebih baik dari yang lalu. Itu membuat saya berubah untuk hal yang positif.
Untuk kedepanya pastinya saya akan lebih baik lagi dan bisa mencapai cita- cita. Dengan kerja keras dan berdoa pasti bisa diraih!
Pelajaran Softskill Dibalik Piala Eropa
Piala Eropa telah berlalu. Tetapi ditiap pertandingan banyak terjadi hal- hal yang tidak terduga oleh penonton di seluruh dunia. Mengapa tidak dari 16 Negara yang bertarung memperbutkan title sebagai Raja Eropa tidak sedikit yang mengunggulkan tim-tim besar seperti Italia, Spanyol, Jerman, Inggris, Belanda, Inggris dan lainnya berjuang untuk mendapatkan juara di piala Eropa ini. Dari 16 Negara tersebut Spanyolah yang baru memecahkan rekor, berhasil mempertahankan Sebagai Raja Eropa, memang mustahil dalam sejarah belum ada Negara yang bisa mempertahankan title juara Eropa berturut- turut. Dan bukanya tidak mungkin dengan racikan sang pelatih memanfaatkan kemampuan yang dimiliki seorang pemain untuk meraih juara di ajang Eropa ini.
Pelajaran yang bisa di ambil adalah bagaimana suatu team itu bisa bekerjasama dengan baik, menekankan ego masing- masing pemain untuk kontribusi sebuah tim. Spanyol adalah tipikal permainan bekerjasama. Ya, yang kita kenal itu adalah Tipitaka. 2 Tahun belakangan ini Barcelona sudah menggunakan kerjasama pemain seperti itu. Karena banyak pemain dari Barcelona yang bergabung dalam tim nas Spanyol. Mengendalikan permainan, mengembangkan permainan tim dan menunggu hingga ada celah untuk menerobos pertahanan lawan. Bukan hal yang mudah untuk melakukan ini, karena pemin di tuntut untuk bersabar dan tidak egois, dengan begitu tim akan terbentuk koordinasi dan formasi yang saling bantu- membantu.
Berbeda dengan tim lainnya seperti Belanda, banyak pemain bertabur bintang di sana. Siapa yang tidak kenal RVP pemain Arsenal ini sebagai Striker tajam di Eropa, banyak yang menantikan aksinya bersama tim Belanda, tetapi apa yang terjadi Belanda tidak lolos dalam kualifikasi grup. Belanda hanya mencetak 1 kemengan dan hasil lainnya tidak memuaskan untuk di grup neraka bersama Italia dan Portugal. Memang saya sebagi yang mendukung Belanda agak kesal dengan permainan mereka. Tidak ada kordinasi, team work. Masing- masing masih memegang egonya sebagai pemain bintang dan tidak bisa bekerja sama dengan baik. Mungkin ini adalah pelajaran yang bisa di ambil dari piala Eropa tahun 2012. Ternyata bukan hal yang mustahil untuk mempertahankan title juara tanpa kerja keras, kerjasama team dan juga pelatih serta berusaha untuk mendapatkan juara.
Pelajaran yang bisa di ambil adalah bagaimana suatu team itu bisa bekerjasama dengan baik, menekankan ego masing- masing pemain untuk kontribusi sebuah tim. Spanyol adalah tipikal permainan bekerjasama. Ya, yang kita kenal itu adalah Tipitaka. 2 Tahun belakangan ini Barcelona sudah menggunakan kerjasama pemain seperti itu. Karena banyak pemain dari Barcelona yang bergabung dalam tim nas Spanyol. Mengendalikan permainan, mengembangkan permainan tim dan menunggu hingga ada celah untuk menerobos pertahanan lawan. Bukan hal yang mudah untuk melakukan ini, karena pemin di tuntut untuk bersabar dan tidak egois, dengan begitu tim akan terbentuk koordinasi dan formasi yang saling bantu- membantu.
Berbeda dengan tim lainnya seperti Belanda, banyak pemain bertabur bintang di sana. Siapa yang tidak kenal RVP pemain Arsenal ini sebagai Striker tajam di Eropa, banyak yang menantikan aksinya bersama tim Belanda, tetapi apa yang terjadi Belanda tidak lolos dalam kualifikasi grup. Belanda hanya mencetak 1 kemengan dan hasil lainnya tidak memuaskan untuk di grup neraka bersama Italia dan Portugal. Memang saya sebagi yang mendukung Belanda agak kesal dengan permainan mereka. Tidak ada kordinasi, team work. Masing- masing masih memegang egonya sebagai pemain bintang dan tidak bisa bekerja sama dengan baik. Mungkin ini adalah pelajaran yang bisa di ambil dari piala Eropa tahun 2012. Ternyata bukan hal yang mustahil untuk mempertahankan title juara tanpa kerja keras, kerjasama team dan juga pelatih serta berusaha untuk mendapatkan juara.
Langganan:
Komentar (Atom)